Rabu, 13 November 2013

Peningkatan Kemampuan Menulis Laporan Pengamatan pada Siswa Kelas V SD Negeri 3 Sukajaya Melalui Penggunaan Strategi IREX



A.   Judul
Peningkatan Kemampuan Menulis Laporan Pengamatan pada Siswa Kelas V SD Negeri 3 Sukajaya Melalui Penggunaan Strategi IREX
B.   Penulis
Nama       : Neni Suharni, S.Pd.SD.
Jabatan    : Guru Kelas V SD Negeri 3 Sukajaya
No. Hp      : 082319215780
C.   Abstrak dan Kata Kunci

ABSTRAK
Kata Kunci: Peningkatan, Kemampuan Menulis Laporan Pengamatan, Strategi IREX
      Penelitian ini bermula dari adanya  kesenjangan,  yakni sebagian besar siswa di kelas V SD Negeri 3 Sukajaya kurang mampu menulis laporan hasil pengamatan sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Hal ini dapat diketahui dari hasil tes bahwa mereka memperoleh nilai kurang mencapai kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan. Diduga kuat salah satu faktor penyebabnya adalah penggunaan strategi pembelajaran yang kurang tepat. Untuk mengatasinya digunakan strategi IREX. Pakok masalah dalam penelitian ini, ada dua, yang dirumuskan melalui dua pertanyaan berikut: (1) bagaimana langkah-langkah menggunakan strategi IREX untuk meningkatkan kemampuan menulis laporan pengamatan pada siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya, dan (2) apakah penggunaan strategi IREX dapat meningkatkan kemampuan menulis laporan pengamatan pada siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya? Guna menjawab pertanyaan ini, maka dilakukanlah penelitian tindakan kelas.  Penelitian tindakan kelas yang telah ditempuh, didesain berdasarkan model spiral. Selama tiga siklus, menempu empat tahapan berikut: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi/pengamatan, dan (4) refleksi. Setelah melakukan serangkaian kegiatan yang telah direncanakan, terbukti kemampuan menulis laporan pengamatan pada siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya, meningkat pada setiap siklusnya. Hal ini menunjukkan efektivitas penggunaan strategi IREX dalam mengatasi masalah.
D.   Pendahuluan
a.    Latar Belakang Masalah
Pada semester 2, dalam pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas V sekolah dasar terdapat suatu tuntutan yang harus dipenuhi oleh setiap siswa, termasuk siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya. Kemampuan yang menjadi tuntutan tersebut, yaitu menulis laporan pengamatan/kunjungan berdasarkan tahapan (catatan, konsep awal, perbaikan, final) dengan memperhatikan penggunaan ejaan. Dalam memenuhi tuntutan tersebut, telah diupayakan melalui proses pembelajaran. Hasilnya menunjukkan, sebagian besar siswa kurang dan tidak mampu memenuhi tuntutan indikator kemampuan berikut: (1) menyusun laporan peristiwa, (2) menyampaikan laporan secara lisan, dan (3) memperbaiki laporan.
Berdasarkan hasil refleksi awal, diketahui ada beberapa faktor penyebab timbulnya persoalan di atas, yakni:
1.    masih rendahnya keterampilan menulis pada setiap siswa;
2.    upaya yang dilakukan guru, kurang tepat;
3.    waktu yang tersedia untuk pengelolaanKBM, kurang memadai.
Untuk terampil menulis, selain perlu ada kesungguhan dari siswa, juga perlu proses yang memungkinkan ke arah itu. Dalam rangka itu, kesungguhan siswa pun sangat bergantung pada iklim pembelajaran. Sementara itu, iklim pembelajaran yang sudah berlangsung, dirasakan kurang kondusif. Menjadi lengkaplah pokok persoalan yang harus segera diupayakan jalan keluarnya ini, tentunya oleh penulis.
Bertolak dari pokok persoalan  itulah yang telah mendorong kepada penulis untuk melakukan penelitian tindakan kelas dalam pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjungan pada siswa binaan. Adapun alternatif yang diupayakan sebagai solusinya, yaitu menerapkan strategi IREX. Strategi pembelajaran menulis ini merupakan perpaduan dari kata Inspiration (Ide), Research (Tata Cara), dan Experience (Pengalaman). Besar harapan melalui upaya ini, kemampuan siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya dalam menulis laporan pengamatan/kunjungan, meningkat.
b.    Rumusan Masalah
Bertolak dari uraian latar belakang masalah di atas, pokok masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1.    Bagaimana langkah-langkah meningkatkan kemampuan menulis laporan pengamatan/kunjungan pada siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya dengan menggunakan strategi IREX?
2.    Apakah penggunaan strategi IREX dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya dalam menulis laporan pengamatan/kunjungan?
c.    Tujuan Penelitian
Tujuan mengadakan penelitian ini, yaitu:
1.    untuk meningkatkan kemampuan menulis laporan pengamatan/kunjungan pada siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya;
2.    untuk mendapatkan strategi yang tepat dalam pengelolaan KBM menulis laporang pengamatan/kunjungan;
3.    untuk memperbaiki pengelolaan proses pembelajaran di masa lalu;
4.    untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman mengelola proses pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjungan berdasarkan langkah-langkah strategi IREX.
d. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis:
Secara teoretis penelitian ini dapat dijadikan acuan guna memperkuat teori yang sudah ada, terkait dengan efektivitas strategi IREX dan pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjungan. Selain itu, juga akan bermanfaat guna menambah wawasan edukasi bagi penulis, rekan guru yang lain, dan bahkan siswa sekali pun.
2.    Manfaat Praktis
Secara praktis, melalui penelitian ini, baik penulis dan siswa serta rekan guru yang lain akan memperoleh pengalaman sangat berharga bisa berlaku memenuhi setiap tuntutan dalam pembelajaran menulis laporan pengaman/kunjungan berdasarkan langkah-langkah strategi IREX.
f. Kajian Teori, Kerangka Berpikir, dan Hipotesis Tindakan
a) Kajian Teori
1.    Menulis Laporan
Laporan adalah penyampaian informasi yang bersifat faktual tentang suatu masalah secara perorangan atau kelompok, badan atau dinas tertentu, kepada pihak tertentu (Hasnun 2006:83).
Menurut Ibrahim (2008:1) laporan ialah suatu wahana penyampaian laporan, informasi, pengetahuan, atau gagasan dari seseorang kepada orang lain. Penulisan laporan merupakan suatu kegiatan lapang yang didokumentasikan dalam tulisan sistematis yang dilakukan seseorang melalui praktik, baik kegiatan laboratorium maupun kegiatan perkantoran, sehingga dapat diperoleh gambaran realistis atas kegiatan tersebut (Sumarsono 2008:2).
Sumarsono (2008:3) menyatakan bahwa tujuan dari penulisan laporan adalah untuk publikasi, artinya bagaimanapun hebatnya hasil penelitian, observasi amupun praktik lapangan tidak akan lengkap tanpa menghasilkan publikasi. Kegiatan penelitian, observasi, percobaan dan praktik lapangan harus dipublikasikan, sebab dengan demikian penulis laporan baik yang senior maupun pemula dapat menilai atau membuktikan kemurnian atau keasliannya data dan hasil penelitian, observasi atau praktik lapangan.
Adapun langkah-langkah dalam menulis laporan yakni: (1) menentukan topik laporan, hal ini agar laporan lebih terarah; (2) menentukan tujuan laporan, isi laporan, dan kepada siapa laporan itu ditujukan harus diketahui dengan pasti; (3) mencatat setiap permasalahan secara sistematis sesuai hasil pengamatan; (4) mengkarifikasi permasalahan yang sudah dicatat dan dikumpulkan; (5) menguasai dan memahami hasil kegiatan yang dilaporkan; dan (6) laporan disusun secara sistematis sesuai urutan kejadian atau kegiatan (Hasnun 2006:84-85).
Laporan adalah urutan yang menjelaskan kegiatan yang telah dilakukan. Kegiatan tersebut dapat berupa kegiatan perjalanan atau pengamatan. Ada beberapa hal yang perlu dikemukakan pada laporan hasil pengamatan, yaitu : tempat yang dikunjungi, waktu dan tujuan kunjungan, dan hal-hal menarik yang ditemui selama kunjungan.
Laporan pengamatan didasarkan pada hasil penglihatan, pendengaran, atau hasil penginderaan kita. Laporan pengamatan hendaknya mengemukakan hal-hal penting dan menarik. 
1)    Menentukan Isi Laporan 
Hal penting dalam sebuah laporan tentunya adalah isi dari laporan tersebut. Isi sebuah laporan dapat ditentukan setelah membaca sebuah laporan secara lengkap. Berikut ini beberapa contoh laporan hasil pengamatan.
Contoh 1 :
Laporan Hasil Pengamatan
Tempat kegiatan     : SD Mekar Makmur
Hari, tanggal             : Sabtu, 26 Maret 2011
Waktu                        : 08.00-11.00
Pengamat                  : Rahmat
Hasil pengamatan    :
Pada hari Sabtu, 26 Maret 2011, SD mekar makmur mengadakan lomba. Lomba diadakan mulai pukul 08.00 – 11.00. peserta lomba adalah siswa kelas satu sampai kelas enam. Semua kelas membersihkan kelas. Kemudian, mereka menata kelas dengan rapi.
·         Isi laporan di atas adalah lomba kebersihan kelas  
·         Perbaikan kalimat yang dicetak miring dalam laporan di atas adalah :Setiap kelas membersihkan kelas
Contoh 2 :
Lomba cerdas cermat dimulai pukul 08.30 di balai desa. Lomba berjalan dengan lancar. Para peserta menunjukkan kebolehan mereka. Angka demi angka diperoleh para peserta. Lomba berakhir pukul 12.00. Lomba dimenangkan oleh SD Mutiara Timur.
·         Isi laporan tersebut adalah : Lomba cerdas cermat dimenangkan oleh peserta SD Mutiara Timur
·         Perbaikan kalimat yang dicetak miring adalah : Peserta menunjukkan kebolehan mereka
Contoh 3 :
Pada hari Selasa 11 Maret 2011 rumah Pak Agus dimasuki orang tak dikenal. Saat kejadian, rumah pak Agus dalam keadaan kosong. Pak Agus dan keluarganya sedang ke luar kota. Menurut informasi dari pak Agus, orang tak dikenal tersebut membawa sejumlah perhiasan dan uang. 
·         Isi dari laporan di atas adalah : Terjadi pencurian di rumah Pak Agus, barang yang hilang adalah perhiasan dan uang.
·         Penulisan yang tepat pada kalimat yang dicetak miring adalah : Pada hari Selasa, 11 Maret 2011 rumah Pak Agus dimasuki orang tak dikenal
2)    Pembenahan Ejaan
Ejaan dalam laporan harus menggunakan ejaan yang benar. Untuk dapat menentukan ejaan yang benar harus diperhatikan setiap bagian tulisan. Ejaan yang dimaksud dalam laporan dapat berupa penggunaan huruf kapital dan penggunaan tanda baca. Perhatikan beberapa contoh penggunaan ejaan dalam laporan berikut ini :
Contoh 1 :
Sungai Kuning terletak di pinggir desa kuning. Air Sungai Kuning masih jernih dan bersih. Aliran air Sungai Kuning pun lancar dan tidak terhalang sampah. Pantas saja penduduk desa masih menggunkan air Sungai Kuning untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kalimat yang dicetak miring menggunakan ejaan yang kurang tepat. Pembenahan kalimat yang dicetak miring adalah: Sungai Kuning terletak di pinggir Desa Kuning.
Contoh 2 :
Kegiatan kunjungan kemuseum diadakan hari Sabtu 19 Nopember 2011. Kunjungan dilakukan oleh semua siswa-siswi kelas V SD. Para siswa berangkat dari sekolah pukul 08.00 dengan mengendarai bus. Para siswa tiba di museum pada pukul 08.40.
Perbaikan kalimat yang dicetak miring tersebut adalah : Kegiatan kunjungan ke museum diadakan pada  hari Sabtu,  19 Nopember 2011.
2.    Strategi IREX
           Strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman) memiliki arti tersendiri, dan ini menunjukkan karakternya.Mengenai strategi belajar ini, Alwasilah dan Suzanna (2007: 150) mengemukakan sebagai berikut.
Strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman) merupakan suatu strategi pembelajaran dengan cara memadukan ide dengan tata cara dan pengalaman menulis. Siasat ini akan mengenai sasaran apabila pengajar mampu menuntun pembelajar dengan baik pada tuntutan menulis yang diinginkan.

Lebih lanjut Alwasilah dan Suzanna (2007: 150) mengemukakan sebagai berikut.
Ketiga komponen tersebut saling terkait erat dalam proses kreatif. Tanpa adanya ide yang jelas, mana mungkin bisa memulai menulis. Demikian pun tanpa memahami tata cara dan tidak memiliki pengalaman menulis, akan susah mewujudkan tulisan yang diinginkan.
         Sehubungan dengan fungsi komponen masing-masing dalam menulis, dijelaskan Alwasilah dan Suzanna (2007: 150) sebagai berikut.
Inspirasi atau ide, tidak datang dengan sendirinya pada diri seseorang. Hal ini dapat diperoleh melalui berbagai cara, termasuk melalui diskusi dengan teman. Fungsi komponen ini yaitu sebagai existing theories yang merupakan temuan atau hasil penelitian terdahulu. Sementara tata cara (riset) berfungsi untuk memperkuat argumen suatu tulisan benar berdasarkan ketentuannya. Kedua komponen ini akan lebih baik dalam menghasilkan sebuah tulisan apabila disertai pengalaman yang berfungsi mengukuhkan ide yang ingin disampaikan.     
         Bertolak dari sudut pandang ahli di atas, dapat diperoleh gambaran bahwa Strategi pembelajaran menulis dengan cara memadukan komponen-komponen penting, seperti ide tau gagasan, metode penulisan, dan sumber pengalaman merupakan strategi belajar menulis yang memungkinkan pembelajar mendapatkan suatu kemudahan dalam mewujudkan tulisan tertentu.
        Sepintas lalu dari pendapat para ahli di atas, diperoleh suatu gambaran untuk lebih menguatkan strategi ini akan membawa dampak positif, baik pada proses maupun hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjungan. Seperti telah dikemukakan bahwa untuk memulai menulis sangat diperlukan adanya ide. Ide adalah gagasan pokok atau suatu konsep yang akan dikembangkan menjadi sebuah tulisan yang diinginkan. Berbekal ide saja dalam menulis, tidak cukup. Penulis pun harus memahami benar tentang tata cara penulisan yang diinginkan, baik jenis atau bentuk tulisannya maupun komponen-komponen penting dalam tulisan, seperti penggunaan ejaan yang benar, pemilihan kata yang tepat, penyusunan kalimat efektif, dan penyusunan paragraf yang kohesif dan koheren. Kedua bekal tersebut akan lebih lengkap jika disertai dengan pengalaman menulis yang serupa. Hal ini patut dimiliki oleh peserta didik yang menginginkan sebuah tulisan teks laporan yang diharapkan.  
Setiap strategi pembelajaran selain memiliki keunggulan juga tidak lepas dari kelemahannya. Demikian pun dengan strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman). Mengenai keunggulan strategi ini dikemukakan Alwasilah dan Suzanna (2007: 150), antara lain:
1.    membekali siswa dengan teknik menulis yang benar, yang dimulai dari adanya inspirasi atau ide, menggunakan tata cara yang tepat dengan bentuk atau jenis tulisan, dan mendayagunakan pengalaman;
2.    siswa dapat belajar menulis lebih bermakna dalam mempelajari suatu tulisan yang diinginkan;
3.    memudahkan siswa dalam mencapai tujuan menulis yang dipelajari;
4.    meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam mengolah pikiran;
5.    mempermudah guru dalam membimbing dan mengarahkan siswa pada saat mempelajari sebuah tulisan yang diinginkan.
        Meski terdapat sisi keunggulannya, tetap saja perlu pemikiran guru dan siswa, agar masing-masing dapat berlaku sebagaimana yang diharapkan. Hal ini seperti ditegaskan Iskandarwassid dan Sunendar  (2008: 9)  bahwa, Sebaik apa pun suatu strategi yang dipilih tetapi apabila dalam penggunaannya kurang memenuhi aturan dan apalagi menyimpang dari aturan, tetap saja keunggulannya tidak akan berasa oleh guru dan siswa.
Hal ini bertolak dari pemikiran tentang pentingnya suatu strategi dipahami oleh guru, baik pada dimensi fungsi strategi saat perancangan maupun dimensi fungsi strategi dalam pelaksanaan pembelajaran, seperti dikutip berikut “Strategi pembelajaran memiliki dua dimensi sekaligus, yakni strategi pembelajaran pada dimensi perancangan dan strategi pembelajaran pada dimensi pelaksanaan” (Iskandarwassid dan Sunendar, 2008: 9).
           Terlepas dari kepentingan itu, strategi ini pun memiliki kelemahan yang harus dipahami dan diupayakan cara yang tepat untuk mengatasinya oleh guru.
           Secara ringkas, Alwasilah dan Suzanna (2007: 150) mengemukakan kelemahan dari strategi ini, yaitu:
1.    seluruh siswa belum tentu memiliki ide, mengetahui tata cara menulis yang benar, dan kaya dengan pengalaman menulis;
2.    memadukan ide dengan tata cara  menulis dan pengalaman yang menarik bukan hal yang mudah, terutama bagi siswa yang tidak terbiasa menulis;
3.    memerlukan waktu yang cukup lama;
4.    dalam proses pendampingan siswa, harus dilakukan secara adil dan terarah, tidak boleh mengabaikan arti penting masing-masing, karena baik ide maupun tata cara dan pengalaman ketiga merupakan satu kesatuan yang akan membentuk tulisan tertentu;
5.    guru terkadang kurang memiliki kemampuan dalam memenuhi ketiga komponen sekaligus, sehingga yang diajarkan kepada siswa lebih bersifat teori, sedangkan implementasi kurang diberikan.

         Untuk mengatasi beberapa kelemahan di atas, guru dan siswa harus berusaha memenuhinya. Artinya, setiap kelemahan tersebut dipenuhi oleh masing-masing, agar tidak terjadi kekurangan yang akan berdampak pada proses kreativitas menulis menjadi terhambat.
b. Kerangka Berpikir
Keberhasilan peningkatan kompetensi siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya dalam menulis laporan pengamatan/kunjungan berdasarkan IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman), sangat bergantung pada strategi persiapan dan strategi pelaksanaan yang dilakukan guru.
Hal ini didasarkan pada pandangan Mujiono (dalam Iskandarwassid dan Sunendar, 2008: 9) yang mengemukakan dua fungsi strategi dalam pembelajaran, seperti dikutip berikut “Strategi pembelajaran memiliki dua dimensi sekaligus, yakni strategi pembelajaran pada dimensi perancangan dan strategi pembelajaran pada dimensi pelaksanaan”.Strategi pembelajaran pada dimensi perancangan, implementasinya dapat berupa rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat komponen penting guna mendukung kelancaran pelaksanaan pembelajaran. Komponen dimaksud, seperti dikemukakan Badan Standar Nasional Pendidikan (2006: 1), meliputi “(1) Standar kompetensi, (2) kompetensi dasar, (3) indikator hasil belajar, (4) tujuan pembelajaran, (5) materi pembelajaran, (6) pengorganisasian kegiatan belajar mengajar, (7) alat dan sumber pembelajaran, dan (8) penilaian pembelajaran”.   Kedelapan komponen tersebut saling terkait erat dalam membentuk karakter pembelajaran yang diinginkan. Demikian pun dalam pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjunganberdasarkan langkah-langkah IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, andExperience = Pengalaman).
Tidak kalah pentingnya dari strategi perancangan pembelajaran adalah strategi pelaksanaan pembelajaran, sebagaimana telah disebutkan di atas. Strategi pelaksanaan pembelajaran dimaksud implementasinya berupa pelaksanaan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan ini terlibat aktivitas guru dan siswa untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Aktivitas guru selain membimbing juga mengarahkan siswa agar dapat belajar secara bermakna. Meski demikian, siswa tidak boleh berketergantungan terus kepada guru. Siswa harus memiliki inisiatif mengembangkan kompetensinya dengan cara menempuh langkah-langkah strategi pembelajaran yang digunakan. Apabila guru dan siswa sudah berinteraksi sesuai dengan porsi masing-masing dalam pembelajaran, ini sudah mendekati pada tujuan yang diinginkan. Demikian pun dalam pelaksanaan pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjunganberdasarkan langkah-langkah IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman), akan berhasil mencapai tujuan jika guru dan siswa saling berusaha mendekatkan diri pada tercapainya tujuan. Untuk itu, jadikan perencanaan pelaksanaan pembelajaran sebagai pedoman yang akan memandu guru dan siswa dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.
Bertolak dari kerangka berpikir di atas, diperoleh suatu konsekuensi yang ditujukan kepada guru dan siswa agar dalam pelaksanaan pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjungandapat berlaku sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing, sebagaimana telah ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran secara tertulis. Pola pemikiran seperti ini pun dikemukakan pula oleh Dunkin dan Bidlle (dalam Suherli, 2001: 69), dengan menggunakan istilah lain seperti tampak pada ilustrasi berikut.




1.        Berkembangnya kompetensi siswa dalam menulis laporan pengamatan/kunjungan.
2.        Efektivitas strategi IREX (Inspiration, Research, and Experience) dalam pembelajaran  menulis laporan pengamatan/kunjungan.
 
Persiapan yang dilakukan guru
 
Aktivitas guru

Peningkatan tingkah laku guru dan siswa  dalam pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjunganberdasarkan langkah-langkah strategi IREX (Inspiration, Research, andExperience)
Aktivitas siswa


 
Variabel Input Variabel  Proses   Variabel Output


































 









Gambar 1

Kerangka Pikir
         Pada ilustrasi di atas, terdapat persiapan yang dilakukan guru dengan melihat kondisi awal siswa. Apabila hal tersebut diterapkan dalam konteks penelitian ini, sudah jelas kondisi awal siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya kurang mampu memenuhi tuntutan pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjungan. Untuk mengatasi hal itu, direncanakan langkah-langkah untuk mengembangkannya melalui strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman). Dengan demikian, aktivitas guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjunganharuslah berdasarkan tugas pokok dan fungsi masing-masing sebagaimana yang telah dirancang. Jika hal ini dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh masing-masing, niscaya peningkatan yang diharapkan akan mudah dicapai.

c.    Hipotesis Tindakan
Bertolak dari pokok masalah yang telah dirumuskan dan kerangka berpikir di atas, dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut “Penggunaan strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman) dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya dalam menulis laporan pengamatan/kunjungan”.       
E.   Metodologi Penelitian
a.    Metode Penelitian
Dalam proses pemecahan masalah penelitian tindakan kelas ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penggunaan metode tersebut merujuk pada pendapat Rochiati (dalam Kunandar, 2009: 46), seperti dikutip berikut.
Penelitian tindakan kelas termasuk penelitian kualitatif meskipun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif, di mana uraiannya bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata. Peneliti merupakan instrument utama dalam pengumpulan data, dan proses sama pentingnya dengan produk. Perhatian peneliti diarahkan pada pemahaman bagaimana berlangsungnya suatu kejadian atau efek dari suatu tindakan.
b.    Desain Penelitian
        Guna memperlancar proses pemecahan masalah, selain perlu ditunjang dengan penggunaan metode yang tepat juga diperlukan desain yang tepat pula. Untuk itu digunakan desain penelitian tindakan kelas. Berdasarkan desain tersebut, ada empat tahapan yang harus ditempuh dalam setiap siklus penelitian tindakan kelas, yakni: (1) menyusun rencana tindakan, (2) melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana, (3) mengamati pelaksanaan tindakan, dan (4) merefleksi proses dan hasil tindakan. Siklus penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan, direncanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus penelitian tindakan kelas yang direncanakan itu digambarkan Kunandar (2009: 17) sebagai berikut.
c.    Prosedur Penelitian
        Prosedur penelitian tindakan kelas ini menempuh empat tahapan penelitian tindakan kelas, yakni merencanakan tindakan pembelajaran, melaksanakan tindakan pembelajaran, mengobservasi tindakan pembelajaran, dan merefleksi hasil pelaksanaan tindakan. Keempat tahapan tersebut ditempuh dalam setiap siklus. Siklus penelitian tindakan kelas yang direncanakan selama tiga siklus. Hal ini dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik sehubungan dengan kemampuan siswa dalam menulis laporan pengamatan/kunjungan.


d.      Sumber Data
Sumber data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: (1) siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis yang berjumlah 23 orang; (2) guru kelas V; dan (3) teman sejawat.
e.    Tempat dan Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini, yaitu di kelas V SD Negeri 3 Sukajaya, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis. Adapun waktu pelaksanaannya, direncanakan mengikuti jadwal pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia yang sudah ditetapkan sekolah.
f.     Teknik dan Instrumen Penelitian
  Teknik dan instrumen penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.    Teknik Observasi
         Menurut Arikunto (1998: 114) “Teknik observasi adalah kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh indera”. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data, baik yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, proses penilaian dan hasilnya dalam pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjungan berdasarkan langkah-langkah strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman) di kelas V SD Negeri 3 Sukajaya. Instrumen yang digunakan dalam teknik ini adalah lembar observasi siswa dan guru untuk setiap siklus PTK.
2.    Teknik Tes
Teknik tes digunakan untuk memperoleh data kemampuan siswa dalam setiap siklus PTK pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjungan berdasarkan langkah-langkah strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, andExperience = Pengalaman). Teknik tes yang digunakan adalah tes tulis dalam bentuk tes kemampuan menulis laporan pengamatan/kunjungan. Instrumen yang digunakan dalam teknik ini adalah lembar tes dan lembar jawaban. 
g.    Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan melalui teknik dan instrumen pengumpulan data dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjungan berdasarkan langkah-langkah strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman). Lebih jelasnya mengenai data yang akan dianalisis tersebut, sebagai berikut.
1.  Data langkah-langkah peningkatan kemampuan menulis laporan pengamatan/kunjungan pada siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya berdasarkan langkah-langkah strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman) baik yang diperoleh melalui observasi dan tes dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan kriteria pelaksanaan pembelajaran berdasarkan langkah-langkah strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman). Kemudian hasilnya dibuat dalam bentuk presentase. Adapun kategori untuk itu, seperti pada klasifikasi berikut.
1)    Aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjungan berdasarkan langkah-langkah strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman), hasil analisisnya dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
2)    Aktivitas guru selamakegiatan pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjungan berdasarkan langkah-langkah strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman), hasil analisisnya dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
3)    Efektivitas kegiatan pembelajaran menulis laporan pengamatan/kunjungan berdasarkan langkah-langkah strategi langkah-langkah strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman) dianalisis secara deskriptif, dan hasilnya dikategorikan dalam klasifikasi berhasil, kurang berhasil, dan tidak berhasil.  
Peningkatan kompetensi siswa dalam menulis laporan pengamatan/kunjungan setelah menempuh langkah-langkah strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman), dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan kriteria menulis laporan pengamatan/kunjungan. Kemudian hasilnya ditentukan berdasarkan pedoman penilaian yang telah direncanakan. Adapun klasifikasi kemampuan tersebut, meliputi mampu, cukup mampu, kurang mampu, dan tidak mampu.
F.      Hasil Penelitian dan Pembahasan
a.  Hasil Penelitian
a)    Kondisi Awal Kemampuan Menulis Siswa
Sebelum tindakan kelas dilaksanakan langkah yang ditempuh peneliti adalah mengetahui kondisi awal kemampuan siswa dalam menulis laporan pengamatan/kunjungan. Data ini diperoleh dari hasil evaluasi, seperti tertuang pada tabel berikut.


Tabel 4.1. Hasil Evaluasi Pra Siklus 1
No.
Skala Nilai
Jumlah Siswa
Persentase Kemampuan Menulis Laporan Pengamatan
1
0 - 50
3
17,6%
2
51 - 60
6
35,3%
3
61 - 70
6
35,3%
4
71 - 80
2
11,8%
5
81 - 100
0
0%
Total

17
100

b.    Pelaksanaan Tindakan Kelas
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini meliputi beberapa siklus yang berdaur ulang dan berkelanjutan dari siklus pertama ke siklus berikutnya.  Setiap siklus meliputi kegiatan perencanaan tindakan (planning), implementasi tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Setiap siklus dilakukan dengan memberikan tindakan pelatihan dan diakhiri dengan praktik menulis.
a) Siklus  I
1. Rencana Tindakan
Pada tahap ini peneliti menyusun perencanaan pembelajaran atau skenario pembelajaran menulis laporan hasil pengamatan laporan yang disajikan dengan menggunakan strategi IREX (terlampir). Rencana pembelajaran siklus I itu dititikberatkan pada pemahaman siswa terhadap teknik menulis laporan pengamatan/kunjungan.
2.  Pelaksanaan Tindakan
Telah disebutkan di atas bahwa pelaksanaan tindakan peningkatan kompetensi siswa dalam menulis laporan pengamatan/kunjungan melalui penggunaan strategi IREX (Inspiration=Ide, Research=Tatacara, and Experience=Pengalaman) pada siklus 1, berlangsung sesuai dengan rencana. Untuk mengetahui jalannya kegiatan inti tersebut, penulis dan guru teman sejawat dari guru pelaksana tindakan telah melakukan pengamatan secara langsung.
3.    Observasi (Hasil Tindakan)
Teman sejawat mencatat pada lembar pengamatan siapa saja yang berhasil dan siapa saja yang belum berhasil mengerjakan tugasnya dengan baik. Dikatakan berhasil apabila siswa telah mendapat nilai minimal 75, kurang dari 75 masih dikategorikan hasilnya belum memadai (belum baik). Berdasarkan hasil tugas yang dikerjakan siswa tersebut dapat diketahui bahwa setiap tugas yang dikerjakan hasilnya ada peningkatan yang signifikan dengan kemampuan menulisnya.
Tabel 4.2 Penguasaan Struktur Bahasa                                                                             dalam Menulis Laporan Pengamatan Siklus I
No
Rentangan Nilai
Jumlah
Siswa
Persentasi
(%)
1
2
3
4
5
0 – 40
41 – 59
60 – 69
70 – 80
81 - 100
0
1
6
6
4
0
5,9
35,3
35,3
23,5


17
100

Pada siklus I  ini seperti terlihat di tabel 2 tentang penguasaan struktur bahasa, siswa yang mendapat (1) nilai 0-40 adalah 0%, (2) nilai 41-50 adalah   5,9%, (3) nilai 51-60 adalah 35,3%, (4) nilai antara 61-79 adalah 35,3 %, dan (5) 80-100 adalah 23,5%.
4.    Refleksi dan Analisis
Melihat hasil yang belum maksimal tersebut maka pada siklus II perlu dilakukan latihan ulang pelatihan persepsi dan diberi tugas agar berlatih sendiri (tugas terstruktur) di rumah. Hal tersebut akan menjadikan pembelajar lebih efisien apabila siswa melakukan latihan secara terus-menerus. Selain mengulang persepsi penguasaan struktur bahasa (pembentukan kata, frase, dan ungkapan baru), siswa perlu diberi latihan model pelatihan yang lain, yaitu dalam meningkatkan kinerjanya siswa perlu membaca berbagai sumber belajar lagi yang ada kaitan atau relevansinya dengan tema yang diangkat di dalam mengembangkan tulisannya tersebut. 
b) Siklus II
1. Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, yang merekomendasikan bahwa hasil penguasaan struktur bahasa dalam kemampuan menulis laporan pada siswa belum memadai, maka pada siklus II ini perlu disusun rencana tindakan selanjutnya. Pada kegiatan perencanaan ini guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menyiapkan materi pembelajaran tentang menulis laporan hasil pengamatan termasuk instrumen dan lembar observasi yang akan digunakan untuk pertemuan berikutnya. Peneliti menyiapkan lembar pelatihan persepsi dan lembar observasi.


2.    Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan siklus 2, berlangsung selama 70 menit. Selama itu, guru dan siswa terlibat secara aktif dalam tiga kegiatan yang telah direncanakan, yakni kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.
3.    Observasi (Hasil Tindakan)
Langkah berikutnya adalah mengulangi pelatihan dan penjelasan mengenai materi berikutnya, yaitu penyusunan kalimat efektif, agar siswa dapat meningkatkan menulis laporan hasil pengamatan.  Pengulangan pelatihan ini sampai tiga kali pertemuan dan setiap tahap selalu ada tugas menulis yang harus dikerjakan siswa. Setelah selesai mengerjakan tugasnya, siswa disuruh melaporkan kepada guru. Kemudian untuk mengecek hasilnya, siswa disuruh mempresentasikan hasil pekerjaannya.
Pada pertemuan terakhir, siswa diberi tes menulis laporan hasil pengamatan yang menekankan pengembangan paragraf termasuk juga diksi dan penguasaan struktur bahasa. Untuk mengetahui hasil pengembangan paragraf siswa dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 4.3.
Hasil Pengembangan Paragraf dalam Menulis laporan Hasil Pengamatan

No.
Rentangan Nilai
Jumlah siswa
Persentasi
(%)
1
2
3
4
5
0 – 40
41 – 59
60 – 69
70 – 80
81 – 100
0
1
5
8
3
0
5,9
29,4
47,1
17,6


17
100

Pada kegiatan pelaporan hasil, kelas memang tampak ramai tetapi dalam suasana yang menyenangkan. Suasana kelas menggambarkan kemauan keras siswa. Mereka kelihatan berusaha untuk memperbaikinya. Hal itu terindikasi dari hasil pelataihan berikutnya yang semakin baik.
Situasi kelas juga menjadi sorotan dalam penelitian ini. Pada kegiatan ini kelas berubah menjadi gaduh karena para siswa sibuk mengoreksi karangan masing-masing. Namun kelas sangat hidup dengan keaktifan siswa. Di samping itu, siswa tampak senang dengan kegiatannya masing-masing.
4.  Refleksi dan Analisis
 Merefleksi proses dan hasil tindakan siklus 2, merupakan bagian penting dari siklus ini. Tujuannya, yaitu untuk mengetahui keberhasilan PTK siklus 2 dalam pembelajaran menulis teks laporan melalui penggunaan strategi IREX (Inspiration = Ide, Research = Tatacara, and Experience = Pengalaman), telah dilakukan refleksi terhadap kinerja guru dan siswa pada PTK siklus 2, yang dilakukan secara kolaborasi antara guru pelaksana tindakan dan pengamat (penulis dan teman sejawat dari guru pelaksana tindakan).  Adapun hasilnya, sebagai berikut.
1)    Kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran menulis teks laporan melalui penggunaan strategi IREX (Inspiration=Ide, Research=Tatacara, and Experience=Pengalaman), diketahui lebih baik dari siklus sebelumnya. Peningkatan kinerja guru tersebut ditunjukkan oleh kemampuannya dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasi serta menindaklanjuti hasilnya. Berdasarkan hasil penilaian kedua orang pengamat, diperoleh rata-rata nilai cukup mampu untuk masing-masing tahap dalam proses pembelajaran tersebut.
2)    Kinerja siswa dalam mengikuti proses pembelajaran menulis teks laporan melalui penggunaan strategi IREX (Inspiration=Ide, Research=Tatacara, and Experience=Pengalaman), diketahui lebih baik dari siklus sebelumnya. Hal ini diketahui dari partisipasi, minat, perhatian, dan motivasi masing-masing siswa yang sebelumnya (pada siklus 1) banyak yang kurang partisipasi, kurang berminat, kurang perhatian, dan kurang bermotivasi setelah melalui penggunaan strategi menjadi meningkat pada kategori ketiga dan keempat. Dari 22 orang siswa, diketahui ada 20 orang (90%) yang sebelumnya kurang partisipasi, kurang berminat, kurang perhatian, dan kurang bermotivasi meningkat menjadi cukup partisipasi, cukup berminat, cukup perhatian, dan cukup bermotivasi. Sementara itu, 2 orang siswa (10%) lainnya yang sebelumnya diketahui cukup partisipasi, cukup berminat, cukup perhatian, dan cukup bermotivasi menjadi mampu berpartisipasi, minatnya lebih tinggi, mampu memperhatikan, dan lebih bermotivasi. Peningkatan tersebut didasarkan hasil penilaian pengamat, seperti tertuang pada tabel 4.4.
3)    Dari 22 orang siswa diketahui ada 19 orang (86%) yang dinyatakan cukup mampu memenuhi tuntutan pembelajaran menulis teks laporan, yakni mendata pokok-pokok laporan dan mengembangkannya menjadi teks laporan yang singkat, padat, dan jelas.  Sementara 3 orang siswa lainnya (14%) dinyatakan masih kurang mampu memenuhi setiap tuntutan tersebut, sehingga diperoleh skor rata-rata 72 dengan kategori cukup mampu.
4)    Cukup tercapainya target kinerja yang diharapkan, baik oleh guru maupun siswa lebih disebabkan karena masing-masing sudah terbiasa dengan langkah-langkah belajar menggunakan strategi IREX (Inspiration=Ide, Research=Tatacara, and Experience=Pengalaman). Untuk meningkatkan ke tarap yang lebih baik pada siklus 3, akan diupayakan hal-hal berikut.
(1)  Persiapan guru harus dimatangkan lagi dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan menindaklanjuti hasilnya yang berorientasi pada pengelolaan proses pembelajaran berdasarkan tuntutan melalui penggunaan strategi IREX (Inspiration=Ide, Research=Tatacara, and Experience=Pengalaman).
(2)  Guru harus mampu mempertahankan dan meningkatkan hal-hal yang sudah cukup baik dalam mengelola proses pembelajaran menulis teks laporan melalui penggunaan strategi IREX (Inspiration=Ide, Research=Tatacara, and Experience=Pengalaman).
(3)  Guru harus mampu meningkatkan partisipasi, minat, perhatian, dan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran menulis teks laporan melalui penggunaan strategi IREX (Inspiration=Ide, Research=Tatacara, and Experience=Pengalaman). Hal-hal yang dianjurkan untuk itu, di antaranya mengaktifkan siswa melalui tanya jawab, pemberian tugas secara kelompok, pemberian penghargaan dan sanksi kepada siswa yang layak untuk mendapatkannya.
(4) Kinerja siswa meski meningkat, tetapi belum mencapai harapan, baik dilihat dari partisipasi, perhatian, minat, dan motivasi. Hal ini lebih disebabkan oleh karena siswa belum terbiasa dengan langkah-langkah belajar menggunakan strategi IREX (Inspiration=Ide, Research=Tatacara, and Experience=Pengalaman). Oleh karena itu, kepada siswa disarankan agar pada PTK siklus 2 mulai membiasakan diri dengan langkah-langkah belajar bermakna. Adapun caranya untuk itu, yakni sebagai berikut.
(1)  Miliki persiapan fisik dan mental, agar dapat berkonsentrasi pada langkah-langkah belajar yang akan dijelaskan guru.
(2)  Bertanyalah kepada guru apabila ada di antara langkah-langkah belajar yang kurang dan atau belum dipahami dengan baik. Tidak usah ragu, dan apalagi merasa malu untuk itu.
(3)  Belajarlah secara sungguh-sungguh, yang ditunjukkan dengan cara berpartisipasi secara aktif, pusatkan perhatian pada apa yang sedang dipelajari, minat dan motivasi belajar terus tingkatkan dengan cara fokus pada tujuan yang ingin dicapai setelah mengikuti proses pembelajaran menulis teks laporan melalui penggunaan strategi IREX (Inspiration=Ide, Research=Tatacara, and Experience=Pengalaman). Selain itu, berusahalah untuk mencapai penghargaan yang akan diberikan guru, dan takutlah dengan sanksi yang akan diberikannya apabila kurang baik dalam proses dan hasil belajar.
(4)  Saling belajarlah dengan baik, karena masing-masing memiliki kelebihan yang sangat diperlukan oleh yang lain. Berjiwa lapanglah dalam memberi dan menerima masukan yang ditujukan untuk kebaikan.
c) Siklus III
1. Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus II, yang merekondasikan bahwa hasil penguasaan struktur bahasa dalam kaitannya dengan kemampuan menulis siswa belum memadai, maka pada siklus III ini perlu disusun rencana tindakan selanjutnya.
Perencanaan tindakan siklus 3, dibuat berdasarkan ketentuan hasil refleksi PTK siklus 2. Dalam rangka itu, guru pelaksana tindakan dan penulis serta guru teman sejawat dari guru pelaksana tindakan berkolaborasi mempersiapkan segala sesuatunya. Hal ini ditujukan agar PTK siklus 3 selain dapat berlangsung lebih baik, juga hasilnya melebihi hasil PTK siklus 1 dan siklus 2. Adapun beberapa hal yang diperoleh dari tahap-tahap tersebut, antara lain:
1)    rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara tertulis yang akan dijadikan pedoman oleh guru pelaksana tindakan dalam mengelola pembelajaran menulis teks laporan pada siklus 3;
2)    instrumen untuk evaluasi pembelajaran menulis teks laporan pada siklus 3;
3)    instrumen untuk pengamatan aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran menulis teks laporan pada siklus 3;
4)    instrumen untuk wawancara dengan guru dan siswa sehubungan dengan pelaksanaan pembelajaran menulis teks laporan pada siklus 3; instrumen untuk kegiatan refleksi terhadap proses dan hasil tindakan siklus 3.
2. Pelaksanaan tindakan
Waktu yang diperlukan untukpelaksanaan tindakan siklus 3, yaitu 70 menit. Dalam waktu tersebut, guru dan siswa terlibat secara aktif, baik pada kegiatan awal, kegiatan inti,  maupun pasca tindakan.
3.    Observasi (Hasil Tindakan)
Langkah berikutnya adalah mengulangi pelatihan dan penjelasan mengenai materi berikutnya, yaitu teknik penulisan, agar siswa dapat meningkatkan menulis laporan hasil pengamatan.  Pengulangan pelatihan ini sampai tiga kali pertemuan dan setiap tahap selalu ada tugas menulis yang harus dikerjakan siswa. Setelah selesai mengerjakan tugasnya, siswa disuruh melaporkan kepada guru. Kemudian untuk mengecek hasilnya, siswa disuruh mempresentasikan hasil pekerjaannya.
Untuk mengetahui perkembangan penguasaan struktur bahasa (gramatika) siswa dapat dilihat dalam tabel berikut.



Tabel 4.4
Hasil Penguasaan Teknik Penulisan dalam Menulis Laporan Hasil Pengamatan
No.
Rentangan Nilai
Jumlah siswa
Persentasi
(%)
1
2
3
4
5
0 – 40
41 – 59
60 – 69
70 – 80
  81 – 100
0
0
4
7
6
0
0
23,5
41,2
35,3


17
100

Situasi kelas juga menjadi sorotan dalam penelitian ini. Kelas yang biasanya tenang, pasif, berubah menjadi kelas yang aktif-dinamis.
4.    Refleksi dan Analisis
 Pelatihan dalam siklus III ini ternyata siswa belum semua secara maksimal dapat meningkatkan kemampuan menulisnya, tetapi sudah lebih baik dan meningkat dari hasil sebelumnya. Hal ini tampak pada perolehan hasil menulisnya kaitannya dengan teknik penulisan dan penguasaan struktur bahasa sudah baik (13 orang dari 17 siswa atau sekitar 76,5%).
Melihat hasil yang maksimal tersebut maka pada siklus III berarti indikator atau tujuan pembelajaran tersebut sudah tercapai.
b. Pembahasan
Kemampuan menulis laporan pengamatan merupakan sebuah kompetensi dasar dalam yang terdapat dalam kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia kelas V, bukan saja perlu diajarkan, tetapi juga perlu strategi pengelolaan yang tepat.
Realisasi pembelajaran menulis laporan pengamatan dengan menggunakan strategi IREX terikat dua hal, yaitu (1) keseluruhan proses pembelajaran berorientasi pada kebermaknaan dan (2) pembelajaran berorientasi kepada pembelajar.
Hasil tes menulis laporan pengamatan dengan menekankan penguasaan struktur bahasa tersebut dapat diketahui bahwa siswa yang mendapat nilai antara 0-40 tidak ada seorang pun, sedangkan yang mendapat nilai antara 41-59 ada 1 orang, nilai antara 60-69 ada 3 orang, nilai antara 70-80 ada 9 orang, dan nilai antara 81-100 sebanyak 4 orang siswa. Nilai rata-rata siswa sebesar 65. Hasil yang dicapai siswa tersebut belum memenuhi tujuan yang diharapkan. Kenyataan menunjukkan bahwa pemberian bimbingan belajar dalam pengembangan menulis  dan bimbingan dari guru perlu diberikan agar siswa memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuan yang dimiliki terhadap hasil menulisnya juga ikut membatu keberhasilan tulisannya.
Pembelajaran berikutnya guru harus mampu mengaktifkan siswa agar kelas dapat lebih maju dan guru harus membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis. Pelatihan dalam siklus I ini ternyata siswa belum secara maksimal dapat meningkatkan kemampuan menulisnya. Hal ini tampak pada perolehan hasil menulisnya kaitannya dengan penguasaan struktur bahasa belum memadai atau masih sedang (9 orang atau 53,0%). Dengan demikian, dalam meningkatkan kemampuan menulis pada siklus selanjutnya, penguasaan struktur bahasa masih perlu ditekankan  atau diperhatikan lagi, khususnya pada bagian pembentukan kata, frasa, dan ungkapan baru yang masih minim.
Guru menyampaikan indikator (tujuan pembelajaran). Indikator pembelajaran yang diharapkan adalah para siswa mampu melaksanakan pelatihan dengan baik tentang bagaimana menulis laporan hasil pengamatandalam karangan/menulis hingga dapat mencapai target kemampuan menulis laporan pengamatan sebesar 75%. Adapun pola pembelajaran terpadu yang digunakan dalam pembelajaran menulis laporan hasil pengamatan ini adalah pola ” menulis-melaporkan membaca”.
Akhir siklus II, siswa diberi tes menulis laporan hasil pengamatan. Dari hasil tes menulis laporan hasil pengamatan yang menekankan persyaratan kalimat efektif yang meliputi kebenaran struktur (correctness) dan kecocokan konteks (appropiacy) oleh  siswa tersebut nilai terendah yang dicapai siswa adalah 50 dan nilai tertinggi 80, sedangkan nilai rata-rata tes 65. Hal ini tampak pada perolehan hasil menulisnya kaitannya dengan menulis laporan hasil pengamatansudah baik (11 orang dari 17 siswa telah mencapai nilai tersebut 70 atau nilai rata-rata 65%). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa berdasarkan hasil tes menulis laporan hasil pengamatan siswa tersebut sudah lebih baik dari hasil tes sebelumnya. Dengan perkataan lain bahwa kemampuan menulis dengan menekankan penguasaan struktur bahasa siswa setelah diadakan pelatihan ulang hasilnya meningkat lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Pada siklus III,   Pada pertemuan terakhir, siswa diberi tes menulis laporan hasil pengamatan yang menekankan teknik penulisan termasuk juga penguasaan struktur bahasa. Hal ini untuk memperoleh masukan apakah setelah diadakan pelatihan selama tiga pertemuan siswa sudah menguasai teknik penulisan dan gramatika atau struktur bahasa dalam meningkatkan kemampuan menulisnya tersebut.  Melihat hasil yang maksimal tersebut maka pada siklus III berarti indikator atau tujuan pembelajaran tersebut sudah tercapai, berarti sudah tidak  perlu lagi dilakukan latihan ulang pelatihan persepsi dalam pembelajaran menulis laporan hasil pengamatan dengan strategi IREX  untuk penelitian ini. Hal tersebut akan menjadikan pembelajar lebih efisien apabila siswa melakukan latihan secara terus-menerus.
Strategi IREX yang diterapkan pada orientasi pembelajaran pada siswa tidak sekadar memberikan fakta atau konsep sebanyak-banyaknya, tetapi lebih berfokus pada proses sampai siswa menemukan konsepnya. Pembelajaran yang berpusat pada siswa ini memungkinkan siswa menyelidiki sendiri berbagai hal yang selanjutnya berguna bagiperkembangan intelektual dan mental mereka.
Penekanan dalam proses menulis ádalah apa-apa yang dipikirkan dan dikerjakan pembelajar pada waktu mereka menulis. Ini berbeda dengan menulis yang dilakukan berdasarkan pembelajaran dari guru, yang disebut menulis kreatif. Pembelajaran yang berorientasi dari guru tersebut yang dipentingkan ádalah hasil akhir tulisan siswa.
G.   Simpulan dan Saran
Simpulan yang dapat diambil dari penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut.
1.    Penggunaan strategi IREX dalam pembelajaran menulis laporan pengamatan terbukti dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya. Hal ini terindikasi dari adanya peningkatan perolehan nilai kemampuan menulis laporan pengamatan yang rendah meningkat ke kemampuan yang lebih tinggi.
2.    Pelaksanaan pembelajaran menulis laporan pengamatan dengan menggunakan strategi IREX dapat menyinergiskan antara kemampuan fisik dan kemampuan psikis siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya, sehingga kemampuan menulisnya meningkat.
3.    Peningkatan kemampuan menulis laporan pengamatan pada siswa kelas V SD Negeri 3 Sukajaya adalah sebagai berikut: pada kondisi awal perolehan nilai kemampuan menulis laporan pengamatan adalah 11,8%. Pada siklus I perolehan  nilai kemampuan menulis laporan pengamatan tertinggi  adalah 59%. Pada siklus II perolehan nilai tertinggi  65%, sedangkan perolehan nilai tertinggi pada siklus III adalah 76,5%.
Berdasarkan simpulan yang telah dikemukakan tersebut dapat diajukan saran-saran sebagai berikut.
1.    Siswa disarankan agar terus-menerus berlatih menulis agar dapat meningkatkan menulis laporan hasil pengamatannya. Semakin banyak berlatih menulis, siswa akan semakin lancar dan mudah di dalam mengungkapkan atau menyampaikan buah pikiran, perasaan, pengalaman, dan pendapatnya dalam bentuk bahasa tulis kepada orang lain.
2.    Di dalam meningkatkan menulis laporan hasil pengamatan siswa, para guru hendaknya menjelaskan lebih dulu komposisi laporan dan teknik penulisan.
H.   Sumber Rujukan
Allen, Ian. 1986. Learning Throught and Integrated Curriculum, Approach and Guidelines. Victoria: Ministry of Education.
Brown, H. Douglas. 1980. Principles of Language Learning and Teaching. Englewood Cliffs: New yersey: Prentice-Hall Regents.
__________. 1984. Teaching by Principles, an interactive approach to Language Pedagogy. Englewood Cliffs: New yersey: Prentice-Hall Regents.
Cooper, Charles R. dan Odell Lee. 1977. “Holistic Evaluation of Writing”  Evaluating Writing: Describing, Measuring, and Judging.
Forgaty, Robin. 1991. How to Integrate Curricula. Illinois: IKI/Skylight Publishing Inc.
Gilliam dan Dixon, Hazel. 1991. Integrating Learning Planned Curriculum Units. Auastralia: Bookshelt Publishing Australia.
Gorys Keraf. 1984. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: PT Gramedia.
__________.1994. Komposisi. Flores-Ende: Nusa Indah.
Harris, P. 1974. Testing English as a Second Language. New York: Tata McGraw-Hill.
Heaton, J.B. 1983. Writing English Language Texts. Singapore: Longman Gr.
Hughes, Athur. 1990. Testing for Language Teachers. New York: Cambridge University Press.
Imam Syafi’e. 1993. Terampil Berbahasa Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Madson, Harold S. 1983. Techniques in Testing. New York: Oxford University Press.
Mansoer Pateda. 1991. Linguistik Terapan. Ende-Flores: Nusa Indah.
McCrimmon, James. 1976. Writing with a Purpose. Boston: Houghton Mifflin Company.
Mulyanto Sumardi (ed). 1992. Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Morgan, Clifford T. 1986. Introduction Psychology. New York: McGraw-Hill Book Copany.
Oxford, Robecca L. 1996. Integrating The Language. Great Britain: Pergamom.
Ramlan. 1983. “Penyusunan Tata Bahasa Struktural Bahasa Indonesia”. Pedoman Penulisan Tata Bahasa. Ed. Yus Rusyana dan Samsuri. Jakarta: Departemen Pendidikan dan kedbuadayaan.
Sabarti Akhadiah, Maidar G. Arsyad, dan Sakura H. Ridwan. 1996. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.Jakarta: Erlangga. 
Savignon, Sandra J. 1983. Communicative Competence: Theory and Classroom Practise. New York: Addison Wesley Publishing Company Inc.
Tampubolon. 1990. Kemampuan Membaca, Teknik membaca Efektif dan Efisien. Bandung: Angkasa.